
moga bermanfaat ^^
NIE_A Seorang perempuan biasa yg inginkan kesempatan hidup dan ilmunya dapat b'manfaat bagi dirinya sendiri, orang laen,& alam sekitarnya. Namun, juga perlu sesosok cahaya u/ hidupnya seperti bunga matahari yg m'butuhkan matahari sbg sumber hidupnya.
1. Pandai Mensyukuri Nikmat
Hidup ini adalah kenikmatan yang tiada, segala pemberian nikmat Allah SWT diberikan kepada kita dengan gratis. Nafas yang kita hirup, panca indra, akal pikiran, mampukah kita membayarnya? Bersikaplah jujur dan obyektif, pandang dan rasakan semua itu dengan hati dan pikiran yang jernih. Allah menganugerahi kita sebagai makhluk yang paling sempurna, mengapa kita harus kecewa? Semua itu kecil, tidak ada artinya bagi kehidupan kita, kenapa kita tidak ersyukur xaja?Bersyyukur itu gampang caranya, apapun yang ada di dunia dapat membuat hati bersyukur. Dalam kecewa pun ada kebahagiaan, kenapa? Karena hati kita tidak terbuka untuk rasa syukur, dengan begitu kita akan lebih hati-hati.
2. Percaya pada Takdir
Manusia menjalani rutinitas kehidupannya sesuai dengan takdirnya, setiap makhluk memiliki takdir sendiri-sndiri yang tidak dapat diubah. Hanya Allah yang dapat mengubah. Berbahagialah karena takdir itu rahasia Allah, kita bersyukur karena kita tidak tahu berapa besar rejeki kita. Takdir merupakan salah satu rukun iman dalam agama Islam. Umat Islam belum dikatakan beriman sebelum mengakui dan percaya adanya takdir. Percaya pada takdir sama artinya dengan percaya adanya Allah, karena Allahlah yang membuat ketentuan atas takdir hamba-hambaNYA. Keyakinan bahwa Tuhan yang mengatur semua ini membuat kita tumbuh rasa percaya diri. Kita memang tidak pernah tahu apa rencana Allah, tetapi lkita yakin bahwa Allah tak pernah menganiaya hambaNYA, karena itu tidak ada tempat untuk merasa kecewa.
3. Menyikapi Perubahan secara positif
Kehidupan ini akan selalu berubah, karena pada hakikatnya hidup adalah perubahan. Kita adalah bagian dari perubahan itu, karena kita adalah bagian dari kehidupan. Kita tidak bisa menolak perubahan, setuju atau tidak perubahan akan selalu terjadi. Setiap perubahan pasti membawa dampak baik dan buruk. Dengan berpedoman pada prinsip baik dan buruk kita akan selalu mendapatkan sisi positif dari perubahan. Kita harus memiliki keyakinan bahwa setiap perubahan pasti membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Kalau kita yakin bahwa perubahan itu terjadi atas kehendakNYA, maka langkah kita yang paling baik adalah berbaik sangka terhadap perubahan. Kalau kita berbaik sangka kepada Allah, maka Allah pun akan berbaik hati kepada kita. Sebaliknya jika kita berburuk sangka kepada Allah, Allah pun akan berbuat buruk kepada kita.
3. Tidak berangan-angan terlalu tinggi
Manusia memang membutuhkan harapan dalam hidupnya, karena itu ia memiliki cita-cita. Cita-cita membuat manusia bersemangat dalam hidupnya, karena itu sebuah cita-cita hrus realistis artinya disesuaikan dengan kemampuan yang kita miliki. Kita harus dapat mengukur diri kita sendiri sebelum memutuskan, menggantungkan cita-cita di langit. Sebab tak semua harapan kita pasti menjadi kenyataan. Hiduplah secara wajar dengan cita-cita yang wajar pula, tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu rendah. Tak heran kita sering mengalami kekecewaan, karena angan-angan tersebut tetap saja hanya angan-angan.cita-cita bukan satu-satunya sumber bahagia, tetapi sebaliknya cita-cita lebih dekat dengan rasa kecewa. Cita-cita itu diperlukan sekedar agar memiliki keberanian dan harapan akan masa depan, tetapi bukan satu-satunya cara menggapai masa depan.
5. Sering melihat ke bawah
Prang tua dulu memberi wejangan kepada anak cucunya agar dalam hidup ini selalu melihat ke bawah, artinya memperhatikan orang-orang yang hidupnya lebih menderita dari kita. Allah telah membri kita rejeki sehingga tidak sampai mengalami penderitaan seperti mereka. Banyak hikmah yang dapat kita petik dengan mengakrabi kaum Dhuafa tersebut. Orangnya sederhana dan tidak mau neko-neko.
6. Apa yang terjadi saat ini adalah yang terbaik
Adapun ungkapan yang berbunyi: urusan kita yang utama bukanlah melihat sesuatu yang samar-samar dari kejauhan, tetpai mengerjakan apa yang jelas berada di dalam genggaman tangan. Padahal belum tentu yang samara-samar itu akan menjadi miliknya,tetapi kebanyakan manusia merasa bahwa hal itu akan menjadi miliknya. Apa yang menurut kita buruk belum tentu buruk di mata Allah. Begitu pula sebaliknya. Mari kita tumbuhkan sikap mental bahwa apa yang terjadi saat ini adalah yang terbaik bagi kita. Kesedian hati kita untuk menerima apapun yang terjadi akan membawa kita kepada sikap pasrah dan tawakal. Manusia hanya mampu berusaha dan Allahlah yang menetukan. segalanya.
7. Mengambil hikmah dari suatu peristiwa
Mungkin kita semua pernah mengalami gejolak jiwa dan menuduh Allah tidak adil. Ketika kita ditimpa musibah kita menganggap Allah sudah tidak saying kepada kita. Allah tidak pernah menguji iman hambaNYA tanpa hikmah. Kita harus bersyukur menerima ujian dari Allah karena itu menandakan bahwa Allah masih memperhatikan kita. Allah menghukum kita supaya kelak kita di akhirat terbebas dari hukuman. Kalau kita ditimpa musibah, bukan berarti Allah tidak adil kepada kita. Allah adil, tetapi kita sendiri yang sering berlaku tidak adil kepada diri kita sendiri. Semua itu tergantung pada anggapan kita sendiri dalam memandang peristiwa yang menimpa diri kita bencana/ujian. Mudah-mudahan kita tidak salah memilih.
8. Menjauhkan penyakit-penyakit hati
Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Kesehatan tubuh sangat mempengaruhi kesehatan jiwa, begitu pula sebaliknya. Sebaliknya jiwa yang sakit akan membuka lebar-lebar pintu kesengsaraan. Di dalam diri manusia ada segumpal daging, itulah yang dinamakn hati. Hati adalah cermin, tempat segala pahala dan dosa bersatu, penyakit hati inilah suber mala petaka yang menimpa manusia. “Jagalah hati jangan kau kotori”.kalau hati kotor semua yang ada di dunia ini akan kotor. Artinya lingkungan besar pengaruhnya bagi kesehatan jiwa dan pikiran kita.
9. Ada keinginan kuat untuk selalu meredam rasa kecewa
Hidupini ditentukan oleh diri kita sendiri, bukan oleh orang lain. Nabi Muhammad SAW dan Mahatma Gandhi adalah dua manusia besar yang berhasil membentengi dirinya dari rasa kecewa. Nabi Muhammada SAW adalah manusia yang paling dapat mengendalikan nafsunya. Semua itu tergantung pada diri kita sendiri, bahkan Mahatma Gandhi memandang penderitaan sebagai kebahagiaan, karena itu ia selalu bisa tersenyum pada dunia. Kita harus punya keyakinan bahwa raa kecewa itu tidak akan pernah ada, kalau kita tidak pernah menghadirkannya di hati kita. Sekarang kita pilih, bahagia atau kecewa?
10. Kembalikan semuanya kepada Allah SWT
Puncak pengobatan yang paling mujur adalah mengembalikan semua itu pada Allah SWT. Inilah obat yang paling mujarab dan tidak ada duanya di dunia ini. Buat apa dibuat susah, buat apa dibuat kecewa? Apa yang harus dikecewakan, apa yang harus disusahkan? Toh semuanya sudah dikethaui oleh Allah SWT untuk kebahagiaan hambaNYA. Artinya marilah kita tumbuhkan satu keyakinan bahwa Allah menciptakan manusia dengan tujuan agar manusia menjadi bahagia hidupnya. Allah yang menghidupkan danAllha pula ang memberikan kematian. Manusia tidak mungkin melepaskan diri dari hokum Allah. Marilah kita menghadirkan Allah di dalam hati baik dikala bahagia maupun dikala dirundung kecewa. Dengan mengingat Allah hati akan tenteram, karena itu kita harus selalu ingat akan keberadaan Allah SWT. Dan Allah SWT adalah pengawal yang kuat atas diri kita.
Dikutip dari “SEYMA MEDIA”
Allahumma rabbannas… bimbing hambaMu ini untuk senantiasa mensyukuri nikmatMu dan sabar atas segala ujianMu…
—————————
“Rencana Tuhan Indah Pada Waktunya”
Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang meyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya,apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang meyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang kulihat dari bawah adalah benang ruwet. Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut,
“Anakku,lanjutkanlah permainanmu,sementara ibu menyelesaikan sulaman ini, nanti setelah selesai, kamu akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas.”
Aku heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu sembrawut menurut pandanganku.
Beberapa saat kemudian, aku mendengar suara ibu memanggil, “Anakku, mari ke sini, dan duduklah di pangkuan ibu.”
Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah,dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat
hanyalah benang-benang ruwet. Kemudian ibu berkata, “Anakku, dari bawah memang ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa dia atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola,ibu hanya mengikutinya.” “Sekarang, dengan melihatnya dari atas, kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan.”
Sering selama bertahun-tahun, aku melihat ke atas dan bertanya kepada TUHAN, “apa yang Engkau lakukan?”
Ia menjawab, “Aku sedang menyulam kehidupanmu.” Dan aku membantah, “Tetapi nampaknya hidup ini ruwet,benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?
Kemudian TUHAN menjawab, “kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaan-Ku di bumi ini.
Suatu saat nanti Aku akan memanggilmu ke surga dan mendudukkan kamu dipangkuan-Ku,dan kamu akan melihat rencana-Ku yang indah dari sisi-Ku!”
SERING KALI KITA TIDAK MENGERTI APA YANG TUHAN INGINKAN DALAM HIDUP KITA..
TAPI PERCAYALAH BAHWA SEMUA YANG TELAH DIA IJINKAN TERJADI DALAM HIDUP
KITA ADALAH YANG TERBAIK UNTUK KITA. DAN SEMUA YANG DIA RENCANAKAN DI
DALAM HIDUP KITA SELALU TEPAT DAN INDAH PADA WAKTUNYA.
:- TAUSIYAH -:
| Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia |
| Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :
|
Ikhlas, suatu kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kaum muslimin. Sebuah kata yang singkat namun sangat besar maknanya. Sebuah kata yang seandainya seorang muslim terhilang darinya, maka akan berakibat fatal bagi kehidupannya, baik kehidupan dunia terlebih lagi kehidupannya di akhirat kelak. Ya itulah dia, sebuah keikhlasan. Amal seorang hamba tidak akan diterima jika amal tersebut dilakukan tidak ikhlas karena Allah.
Allah berfirman yang artinya,
“Maka sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” (Qs. Az Zumar: 2)
Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan di samping syarat lainnya yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam.
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Perkataan dan perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam)”
Apa Itu Ikhlas ?
Banyak para ulama yang memulai kitab-kitab mereka dengan membahas permasalahan niat (dimana hal ini sangat erat kaitannya dengan keikhlasan), di antaranya Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya, Imam Al Maqdisi dalam kitab Umdatul Ahkam, Imam Nawawi dalam kitab Arbain An-Nawawi dan Riyadhus Shalihin-nya, Imam Al Baghowi dalam kitab Masobihis Sunnah serta ulama-ulama lainnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan tersebut. namun, apakah sesungguhnya makna dari ikhlas itu sendiri ?
Ukhti muslimah, yang dimaksud dengan keikhlasan adalah ketika engkau menjadikan niatmu dalam melakukan suatu amalan hanyalah karena Allah semata, engkau melakukannya bukan karena selain Allah, bukan karena riya (ingin dilihat manusia) ataupun sum’ah (ingin didengar manusia), bukan pula karena engkau ingin mendapatkan pujian serta kedudukan yang tinggi di antara manusia, dan juga bukan karena engkau tidak ingin dicela oleh manusia. Apabila engkau melakukan suatu amalan hanya karena Allah semata bukan karena kesemua hal tersebut, maka ketahuilah saudaraku, itu berarti engkau telah ikhlas. Fudhail bin Iyadh berkata, “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya.”
Dalam Hal Apa Aku Harus Ikhlas ?
Sebagian manusia menyangka bahwa yang namanya keikhlasan itu hanya ada dalam perkara-perkara ibadah semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur’an , haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun ukhti muslimah, ketahuilah bahwa keikhlasan harus ada pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah. Ketika engkau tersenyum terhadap saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau mengunjungi saudarimu, engkau harus ikhlas. Ketika engkau meminjamkan saudarimu barang yang dia butuhkan, engkau pun harus ikhlas. Tidaklah engkau lakukan itu semua kecuali semata-mata karena Allah, engkau tersenyum kepada saudarimu bukan karena agar dia berbuat baik kepadamu, tidak pula engkau pinjamkan atau membantu saudarimu agar kelak suatu saat nanti ketika engkau membutuhkan sesuatu maka engkau pun akan dibantu olehnya atau tidak pula karena engkau takut dikatakan sebagai orang yang pelit. Tidak wahai saudariku, jadikanlah semua amal tersebut karena Allah.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Ada seorang laki-laki yang mengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya, ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat itu bertanya, “Hendak ke mana engkau ?” maka dia pun berkata “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini.” Maka malaikat itu kembali bertanya “Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya ?” orang itu pun menjawab: “Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah, malaikat itu pun berkata “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu karena-Nya.” (HR. Muslim)
Perhatikanlah hadits ini wahai ukhti, tidaklah orang ini mengunjungi saudaranya tersebut kecuali hanya karena Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut. Tidakkah engkau ingin dicintai oleh Allah wahai ukhti ?
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.” (HR Bukhari Muslim)
Renungkanlah sabda beliau ini wahai ukhti, bahkan “hanya” dengan sesuap makanan yang seorang suami letakkan di mulut istrinya, apabila dilakukan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Bagaimana pula dengan pengabdianmu terhadap suamimu yang engkau lakukan ikhlas karena Allah ? bukankah itu semua akan mendapat ganjaran dan balasan pahala yang lebih besar? Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita.
Berkahnya Sebuah Amal yang Kecil Karena Ikhlas
Ukhti muslimah yang semoga dicintai oleh Allah, sesungguhnya yang diwajibkan dalam amal perbuatan kita bukanlah banyaknya amal namun tanpa keikhlasan. Amal yang dinilai kecil di mata manusia, apabila kita melakukannya ikhlas karena Allah, maka Allah akan menerima dan melipat gandakan pahala dari amal perbuatan tersebut. Abdullah bin Mubarak berkata, “Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat.”
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Seorang laki-laki melihat dahan pohon di tengah jalan, ia berkata: Demi Allah aku akan singkirkan dahan pohon ini agar tidak mengganggu kaum muslimin, Maka ia pun masuk surga karenanya.” (HR. Muslim)
Lihatlah ukhti, betapa kecilnya amalan yang dia lakukan, namun hal itu sudah cukup bagi dia untuk masuk surga karenanya. Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dahulu ada seekor anjing yang berputar-putar mengelilingi sumur, anjing tersebut hampir-hampir mati karena kehausan, kemudian hal tersebut dilihat oleh salah seorang pelacur dari bani israil, ia pun mengisi sepatunya dengan air dari sumur dan memberikan minum kepada anjing tersebut, maka Allah pun mengampuni dosanya.” (HR Bukhari Muslim)
Subhanallah, seorang pelacur diampuni dosanya oleh Allah hanya karena memberi minum seekor anjing, betapa remeh perbuatannya di mata manusia, namun dengan hal itu Allah mengampuni dosa-dosanya. Maka bagaimanakah pula apabila seandainya yang dia tolong adalah seorang muslim ? Dan sebaliknya, wahai ukhti, amal perbuatan yang besar nilainya, seandainya dilakukan tidak ikhlas, maka hal itu tidak akan berfaedah baginya. Dalam sebuah hadits dari Abu Umamah Al Bahili, dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain?” maka Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu pun mengulangi pertanyaannya tiga kali, Rasulullah pun menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan ikhlas karenanya.” (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dan Nasai). Dalam hadits ini dijelaskan bahwa seseorang yang dia berjihad, suatu amalan yang sangat besar nilainya, namun dia tidak ikhlas dalam amal perbuatannya tersebut, maka dia pun tidak mendapatkan balasan apa-apa.
Buah dari Ikhlas
Untuk mengakhiri pembahasan yang singkat ini, maka kami akan membawakan beberapa buah yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas. Seseorang yang telah beramal ikhlas karena Allah (di samping amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam), maka keikhlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya. Allah berfirman tentang perkataan Iblis laknatullah alaihi yang artinya: Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Qs. Shod: 82-83). Buah lain yang akan didapatkan oleh orang yang ikhlas adalah orang tersebut akan Allah jaga dari perbuatan maksiat dan kejelekan, sebagaimana Allah berfirman tentang Nabi Yusuf yang artinya “Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas. “ ( Qs. Yusuf : 24). Pada ayat ini Allah mengisahkan tentang penjagaan Allah terhadap Nabi Yusuf sehingga beliau terhindar dari perbuatan keji, padahal faktor-faktor yang mendorong beliau untuk melakukan perbuatan tersebut sangatlah kuat. Akan tetapi karena Nabi Yusuf termasuk orang-orang yang ikhlas, maka Allah pun menjaganya dari perbuatan maksiat. Oleh karena itu wahai ukhti, apabila kita sering dan berulang kali terjatuh dalam perbuatan kemaksiatan, ketahuilah sesungguhnya hal tersebut diakibatkan minim atau bahkan tidak adanya keikhlasan di dalam diri kita, maka introspeksi diri dan perbaikilah niat kita selama ini, semoga Allah menjaga kita dari segala kemaksiatan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas. Amin ya Rabbal alamin.
***
|
|